Jumat, 09 Januari 2015

Mengenal The Fed Dan FOMC (1)

Bagi pelaku pasar forex, kata ‘The Fed’ tentu sudah tidak asing lagi. Hampir semua tahu bahwa The Fed adalah singkatan dari The Federal Reserve System, bank sentral Amerika Serikat, yang sangat berperan penting dalam menentukan arah perekonomian AS dan juga mata uang US dollar. Artikel ini akan mengulas secara singkat tentang apa saja yang sebenarnya dikerjakan The Fed hingga keputusannya bisa sangat berdampak pada pasar forex, bagaimana cara kerjanya, dan apa peran Federal Open Market Committee (FOMC) yang adalah bagian dari The Fed.

Sekilas tentang The Fed
The Federal Reserve System atau The Fed yang berbasis di Washington D.C. ini didirikan oleh kongres AS pada 23 Desember 1913. Institusi ini adalah ‘penjaga gawang’ ekonomi AS dan merupakan bagian dari pemerintahan federal. Sebagai bank sentral The Fed mengatur semua institusi keauangan di AS. The Fed merupakan jaringan (network) yang terdiri dari 12 Federal Reserve Bank beserta cabang-cabangnya. Secara keseluruhan mereka diawasi oleh dewan gubernur The Fed.

Selain berfungsi sebagai bank sentral, The Fed juga melakukan riset dan studi mengenai trend perekonomian AS untuk menunjang dalam membuat keputusan kebijakan moneter yang tepat. The Fed adalah institusi yang independen, artinya bisa membuat keputusan sendiri tanpa persetujuan pemerintah. Namun kongres bisa mempertanyakan keputusannya jika dinilai kurang tepat, dan kepala The Fed secara teratur melakukan testimoni di depan senat. Kepala The Fed dicalonkan oleh presiden dan harus memperoleh persetujuan dari senat. Secara teoritis, The Fed harus bebas dari tekanan politik.

Apa saja yang dikerjakan The Fed ?
Tugas utama The Fed adalah mengupayakan tingkat pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target, tingkat pengangguran yang rendah, mengatur tingkat inflasi dan kestabilan harga untuk menjaga daya beli (purchasing power) US dollar, serta menentukan tingkat suku bunga yang paling pas untuk menunjang berjalannya roda ekonomi. Sebagai bank sentral The Fed juga mengawasi kesehatan bank-bank komersial baik dalam menampung dana nasabah maupun dalam menyalurkan kredit.

The Fed juga berperan penting dalam clearing check, memproses pembayaran yang dilakukan secara elektronik, menyalurkan uang kertas dan koin ke bank-bank dan institusi keuangan, serta mengawasi transaksi antar bank. Riset dan studi The Fed mengenai kondisi ekonomi secara keseluruhan maupun regional dipublikasikan melalui artikel, seminar, website, maupun pidato para petingginya. Distribusi informasi ini adalah juga tugas The Fed.

Dua publikasi penting The Fed yang selalu diperhatikan oleh pelaku pasar adalah:

1. Beige Book
Dinamakan demikian karena sampul bendel laporan tersebut berwarna kecoklatan. Laporan analisa ini dipublikasikan 8 kali setahun, yang didasarkan pada hasil wawancara terhadap para ekonom, analis, pebisnis dan direktur bank pada beberapa negara bagian, dan lebih menonjolkan kondisi perekonomian regional.

2. Fed Minutes
Laporan  ini mengungkapkan pandangan para anggota FOMC pada saat meeting. Sering kali memuat perbedaan detail antar anggota beserta alasannya masing-masing yang diakhiri dengan voting. Perbedaan hasil voting yang menyolok akan sangat berdampak pada pergerakan USD. Fed Minutes yang juga dirilis 8 kali per tahun ini sangat diperhatikan para pelaku pasar uang dan pasar modal.


Sejarah berdirinya The Fed
Sebelum The Fed berdiri Desember 1913, di AS mengalami 2 periode sistem bank sentral yang berbeda yang jauh lebih sederhana dari The Fed. Pertama tahun 1791 dan kedua tahun 1816. Keduanya mempunyai tujuan untuk mencegah ambruknya ekonomi AS. Namun karena khawatir bank sentral akan sangat menentukan dan powerful dalam mengambil kebijakan, kongres AS gagal menyetujui realisasi pendirian bank sentral. Juga pada tahun 1836 presiden Andrew Jackson menolak untuk memperpanjang masa berlakunya bank sentral tahun 1816. Baru setelah rentetan kejatuhan bank-bank terjadi di tahun 1873, 1893 dan 1907, kongres AS mempertimbangkan dengan serius untuk membentuk sebuah bank sentral. Seperti kesimpulan kongres waktu itu: ‘Sebuah bank sentral sangat diperlukan di AS untuk mencegah kejadian bank panic tahun 1907 terulang kembali.’

Kebijakan moneter yang dijalankan The Fed
The Fed menentukan kebijakan moneter untuk menjaga kesehatan perekonomian AS. Kebijakan yang dijalankan adalah menentukan suku bunga dan jumlah uang yang beredar untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan menghindari resesi. Jika pertumbuhan perlu dipercepat dan lapangan kerja perlu diperbanyak, The Fed akan memberikan kredit ke bank-bank komersial untuk disalurkan.

Cara lain The Fed untuk meningkatkan jumlah uang beredar adalah dengan membeli surat berharga pemerintah seperti bond dan lainnya. Cara ini lazim dinamakan quantitative easing (QE). Sebaliknya jika perekonomian dianggap tumbuh terlalu cepat dan inflasi naik tajam, maka The Fed akan menaikkan suku bunga pinjaman dan mengurangi atau berhenti membeli surat berharga pemerintah, sehingga mengurangi jumlah uang beredar.

Struktur organisasi The Fed
Dalam struktur organisasi The Fed, Amerika Serikat terdiri atas 12 distrik. Setiap distrik memiliki sebuah bank yang disebut Reverse Bank, yang bukan bank komersial, namun kepanjangan tangan dari The Fed. Setiap Reverse Bank dikepalai oleh seorang presiden. Ke 12 distrik tersebut adalah Boston, New York, San Francisco, Philadelphia, Cleveland, Chicago, Richmond, St. Louis, Minneapolis, Atlanta, Kansas City, dan Dallas.

Dewan gubernur mengawasi kerja The Fed secara keseluruhan. Terdiri dari 7 anggota yang ditunjuk oleh presiden dan disetujui senat. Dewan gubernur dipimpin oleh kepala dan wakil kepala The Fed yang juga ditunjuk oleh presiden dan disetujui senat. Lama jabatan kepala dan wakil kepala adalah 4 tahun, dan bisa diperpanjang.

Apakah FOMC itu?
FOMC adalah sebuah kelompok dalam The Fed yang membuat keputusan mengenai kebijakan moneter. FOMC singkatan dari Federal Open Market Committee. FOMC terdiri dari 12 anggota.
7 anggota dari dewan gubernur, 4 anggota dipilih diantara 11 presiden Reverse Bank, dan satu anggota tetap adalah presiden Federal Reserve Bank of New York. Ke 4 anggota tersebut menjabat selama setahun secara bergiliran diantara 11 orang.

FOMC mengadakan meeting 8 kali dalam setahun untuk menentukan suku bunga dan memutuskan apakah bank sentral akan mengurangi atau menambah jumlah uang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah. Keputusan akhir FOMC biasanya ditentukan dengan cara pemungutan suara (voting) diantara para anggotanya.

Dari mana The Fed memperoleh dana?
Sebagian pendapatan The Fed diperoleh dari operasi pasar terbuka (open market operation), terutama dari bunga portofolio surat berharga dan hasil dari jual beli surat berharga tersebut. Disamping itu The Fed juga memperoleh penghasilan dari jasa transaksi keuangan seperti proses pembayaran elektronik dan lainnya. Asset The Fed per Juli 2011 sekitar USD 3 trilliun, namun sebagian besar keuntungan The Fed disetorkan ke departemen keuangan AS (US Treasury).

Indikator Ekonomi Leading Dan Lagging (1)

Trading forex berdasarkan analisa fundamental adalah salah satu strategi yang populer karena memberi informasi yang jelas untuk mengambil suatu keputusan. Adalah sebuah keputusan yang masuk akal (belum tentu tepat) untuk mengambil posisi buy ketika indikator pertumbuhan ekonomi (misalnya GDP)  menunjukkan kenaikan yang signifikan. Trader fundamentalist lebih percaya pada indikator ekonomi untuk membuka posisi buy daripada sinyal oversold yang diberikan indikator teknikal. Namun demikian hampir mirip dengan indikator teknikal, indikator ekonomi ada yang bersifat leading dan bersifat lagging.

Indikator ekonomi yang bersifat leading artinya indikator tersebut menunjukkan keadaan ekonomi yang akan terjadi, sedang indikator ekonomi yang bersifat lagging menunjukkan perubahan keadaan ekonomi yang telah terjadi. Indikator yang leading misalnya PMI (Purchasing Managers’ Index),  ZEW Economic Sentiment, Indeks Ifo Business Climate Jerman, UoM (University of Michigan) Consumer Sentiment dan CB consumer confidence. Indikator-indikator tersebut memberi petunjuk apakah pertumbuhan ekonomi akan meningkat atau turun dalam waktu dekat. Contoh indikator yang bersifat lagging adalah GDP dan tingkat pengangguran (unemployment rate). Tingkat pengangguran meningkat setelah laju pertumbuhan ekonomi turun, atau keadaan perekonomian memburuk. Indikator yang lagging bisa digunakan untuk memprediksikan variabel yang lain, semisal GDP turun ada kemungkinan tingkat suku bunga diturunkan untuk memacu investasi, hingga berdampak pada melemahnya nilai mata uang.
 
Indikator ekonomi leading Karena indikator ekonomi yang bersifat leading memiliki potensi memprediksi arah perekonomian, pejabat fiskal pemerintah sering menggunakannya sebagai acuan dalam menentukan suatu kebijakan agar terhindar dari dampak negatif ekonomi, misalnya resesi. Berikut beberapa indikator ekonomi penting yang bersifat leading:
1. Yang berhubungan dengan aktivitas manufaktur
Aktivitas dalam bidang manufaktur adalah salah satu indikator penting yang berdampak langsung pada pertumbuhan tingkat perekonomian yang diwakili oleh besaran GDP. GDP naik berarti tingkat permintaan (demand) juga naik. Permintaan akan barang-barang naik berarti membutuhkan sumber daya manusia, yang berarti menambah lapangan pekerjaan dan mungkin juga dengan tingkat upah yang lebih tinggi. Indikator penting yang berhubungan dengan aktivitas manufaktur adalah PMI (Purchasing Managers’ Index), Industrial Production dan Factory Orders.
Produk manufaktur yang dihasilkan tidak begitu saja seluruhnya jatuh ke tangan konsumen, tetapi disimpan di gudang terlebih dahulu sebagai inventory (persediaan/stock), sehingga kita perlu melihat juga data retail sales untuk mengetahui nilai uang dari keseluruhan produk retail yang telah terjual.
2. Retail Sales
Indikator Retail Sales mengukur output aktivitas manufaktur yang sesungguhnya, dalam arti nilai uang yang dihasilkan dari penjualan produk retail pada suatu periode tertentu. Yang penting diperhatikan, retail sales yang meningkat tajam akan berpengaruh langsung pada kenaikan GDP, yang pada akhirnya akan memperkuat nilai mata uang. Atau data Retail Sales yang naik berarti perekonomian sedang membaik atau menuju ke perbaikan.
3. Building Permits dan Housing Start
Building Permits
atau ijin mendirikan bangunan rumah atau gedung memberi gambaran tingkat persediaan perumahan ataupun jenis bangunan lainnya (perkantoran, hotel dan sebagainya). Building Permits yang meningkat berarti industri konstruksi akan bergairah, dan tenaga kerja juga akan bertambah, yang berujung pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Housing Start adalah indikator dimulainya pembuatan fondasi sebagai tindak lanjut dari Building Permits.
4. Home/Housing Sales
Naik turunnya tingkat penjualan perumahan akan berdampak langsung pada perekonomian. Seperti terjadi saat fenomena ‘housing bubble’ di AS pada tahun 2007 lalu ketika persediaan perumahan melebihi permintaan hingga harganya jatuh dan pekerjaan konstruksi terhenti, yang menyebabkan naiknya tingkat pengangguran. Selain itu penerimaan pemerintah dari pajak properti juga akan berkurang, hingga berdampak negatif pada perekonomian. Di AS, Indikator penjualan perumahan adalah Existing Home Sales, Pending Home Sales dan New Home Sales.
5. Sentimen bisnis
Sentimen bisnis yang tinggi menggambarkan tingkat kepercayaan pebisnis dan investor untuk menggerakkan roda perekonomian, dan merupakan indikator leading bagi naiknya pertumbuhan di masa depan. Di Amerika Serikat indikator sentimen bisnis yang penting adalah UoM (University of Michigan) Consumer Sentiment dan Philly (Philadelphia) Fed Manufacturing Index.
 

Indikator Fundamental Yang Menggerakkan Pasar (2)

CPI dan PPI
Data Consumer Price Index (CPI) yang berdampak pada pasar adalah Core CPI atau CPI inti, yaitu indeks harga konsumen diluar sektor makanan dan energi. Bank sentral dan trader biasanya mengacu pada CPI inti untuk mengantisipasi perubahan tingkat suku bunga. Perubahan CPI yang cukup signifikan mencerminkan laju inflasi yang tinggi hingga bisa berpengaruh pada reaksi bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga.

Producer Price Index (PPI) adalah indikator leading untuk tingkat inflasi. Jika produser menaikkan harga produk dan jasa, maka akan berpengaruh langsung pada tingkat pengeluaran konsumen dan tingkat kenaikan harga barang secara keseluruhan. Jika data PPI dirilis sebelum CPI, biasanya akan berpengaruh langsung pada CPI yang pada akhirnya bisa mempengaruhi bank sentral dalam menentukan suku bunga.

Selain CPI dan PPI, para pelaku pasar biasanya juga mencermati harga komoditi yang bisa berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa, seperti misalnya harga minyak mentah dunia. Beberapa tahun terakhir, volatilitas harga minyak dunia sangat mempengaruhi aktivitas perekonomian di berbagai negara industri maju. Kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya produksi yang tentunya berakibat pada kenaikan harga produk yang dihasilkan dan jasa transportasi. Hal ini akan berdampak pada kenaikan tingkat laju inflasi.

Data mengenai aktivitas konsumen

Perubahan tingkat aktivitas konsumen akan berdampak langsung pada keuntungan produsen dan juga tingkat harga barang. Ada beberapa cara untuk mengukur tingkat aktivitas konsumen, salah satu yang paling populer adalah dengan mengukur tingkat kepercayaan konsumen (Consumer Confidence). Di Amerika Serikat tingkat kepercayaan konsumen dilakukan melalui survey oleh Conference Board (sebuah lembaga non-profit) terhadap 5000 rumah tangga mengenai kondisi perekonomian dan bisnis saat ini. Consumer Confidence juga merupakan indikator leading untuk tingkat pengeluaran konsumen yang mencerminkan aktivitas perekonomian secara keseluruhan.

Tingkat kepercayaan konsumen juga bisa dilihat dari indikator retail sales yang mengukur hasil penjualan produk retail pada suatu periode tertentu, tetapi Consumer Confidence lebih bersifat jangka panjang. Selain retail sales, pasar perumahan juga bisa digunakan sebagai indikator tingkat kepercayaan konsumen. Dalam hal ini pelaku survey melihat pada rilis bulanan mengenai keadaan pasar perumahan, seperti housing starts, building permits dan new home sales sebagai pelengkap data kepercayaan konsumen.

Data mengenai aktivitas investor

Seperti halnya tingkat aktivitas konsumen, tingkat aktivitas investor juga akan berdampak langsung pada aktivitas perekonomian secara keseluruhan, dan bisa diukur dengan tingkat kepercayaan investor atau sentimen bisnis. Sentimen bisnis yang tinggi menggambarkan tingkat kepercayaan investor untuk menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja dan berujung pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Beberapa lembaga survey dan bank sentral melakukan survey pada sejumlah investor dan pelaku manufaktur mengenai prospek perekonomian, yang dirilis dalam sebuah angka indeks kepercayaan. Beberapa indikator tingkat kepercayaan investor yang dirilis setiap bulan oleh lembaga survey dan bank sentral yang mempengaruhi pasar antara lain:

Philly Fed Manufacturing Index atau Philadelphia Fed Business Outlook Survey (Amerika Serikat)
ISM Manufacturing PMI (Amerika Serikat), dan Manufacturing PMI dari Markit (Inggris)
ZEW (Zentrum fur Europaische Wirtschaftsforschung) Economic Sentiment (Jerman)
Ifo (Information and Forschung) Business Climate (Jerman)
Sentix Investor Confidence
(Uni Eropa)
SVME (Schweizerischer Verband fur Materialwirtschaft und Einkauf) PMI (Swiss)
NAB (National Australia Bank) Business Confidence (Australia)
Tankan Manufacturing Index (Jepang), dirilis setiap kwartal.

Indikator Fundamental Yang Menggerakkan Pasar (1)

Setiap minggu ada puluhan data indikator ekonomi dan indeks survey yang dirilis di berbagai situs. Banyak diantara data yang dirilis tersebut tidak mempengaruhi pergerakan harga pasar, atau sangat kecil pengaruhnya. Sebagai trader tentu kita ingin fokus pada data fundamental yang berdampak signifikan pada pergerakan harga pasar guna antisipasi dalam membuka posisi, atau mungkin menghindar dari pasar untuk mencegah akibat dari loncatan harga (slippage).

Indikator fundamental yang bisa menggerakkan pasar adalah yang berhubungan dengan data tenaga kerja, inflasi, aktivitas konsumen dan aktivitas investor. Seringkali sebuah indikator bisa memprediksi atau memberi konfirmasi pada indikator yang lain, misalnya GDP dan inflasi. Pasar akan bereaksi jika rilis data berbeda dengan prediksi atau consensus. Berikut beberapa indikator fundamental penting tersebut:

Data tenaga kerja : Non Farm Payrolls dan Unemployment Rate

Banyak ekonom yang berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja adalah indikator utama untuk mengetahui sehat atau sakitnya perekonomian suatu negara. Di Amerika Serikat, Biro statistik tenaga kerja (US Bureau of Labor and Statistics) setiap bulan merilis data tentang tenaga kerja yang meliputi Non Farm Payrolls (NFP) dan Unemployment Rate (tingkat pengangguran). NFP mengukur perubahan jumlah tenaga kerja pada periode bulan sebelumnya diluar industri pertanian.

Data yang dirilis tiap hari Jum’at minggu pertama ini adalah indikator yang bersifat leading bagi indikator consumer spending (pengeluaran konsumen), consumer confidence (kepercayaan konsumen) dan consumer sentiment, yang mencerminkan kesehatan ekonomi secara keseluruhan. Karena faktor konsumen ini menentukan  hampir 70% dari aktivitas perekonomian, rilis data dari Biro statistik tenaga kerja AS ini selalu ditunggu oleh pelaku pasar dan analis, dan sangat berdampak pada pergerakan pasar, baik pasar saham atau forex.

Bertambah atau berkurangnya lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja akan berpengaruh langsung pada keadaan perekonomian. Misalnya, berkurangnya jumlah tenaga kerja bisa diartikan makin susutnya pendapatan sektor bisnis dan industri. Jika banyak orang yang kehilangan pekerjaan, mereka tidak bisa membeli barang atau produk yang dihasilkan oleh sektor industri hingga mengurangi pendapatan sektor ini. Karena Amerika Serikat adalah negara yang terbesar perekonomiannya dan paling berpengaruh di dunia, maka rilis data NFP AS jauh lebih berdampak pada pasar dibandingkan rilis NFP Perancis misalnya.

Data Unemployment Rate (tingkat pengangguran) di AS dirilis oleh Biro statistik tenaga kerja bersamaan dengan NFP. Data ini mengukur jumlah tenaga kerja yang menganggur (tidak bekerja) dan sedang aktif mencari pekerjaan pada periode bulan sebelumnya. Walaupun Unemployment Rate adalah indikator yang bersifat lagging, namun jumlah tenaga kerja yang menganggur akan mempengaruhi tingkat pengeluaran konsumen dan berdampak pada pendapatan sektor bisnis dan industri juga.

Data mengenai inflasi : CPI, PPI dan tingkat suku bunga

Diantara rilis data Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI) dan tingkat suku bunga, yang paling berdampak pada pasar adalah suku bunga. Tingkat suku bunga adalah output dari 2 indikator sebelumnya yang mengukur laju inlasi. Bank sentral menentukan tingkat suku bunga berdasarkan indikator indeks harga konsumen (CPI) dan produsen (PPI). Kebijakan moneter bank sentral ini biasanya diumumkan tiap bulan, dan akan sangat berdampak langsung pada pergerakan pasar forex jika tingkat suku bunga yang dirilis berbeda dengan yang diharapkan para pelaku pasar dan analis.

Berbeda dengan dampak rilis data NFP AS, pengumuman tingkat suku bunga akan berdampak pada semua mata uang utama yang mengalami perubahan suku bunga (EUR, JPY, GBP, CHF, AUD, CAD dan NZD), tidak hanya US dollar. Bahkan kadang pergerakan harga pasar akibat tingkat suku bunga ini bisa melebihi dampak akibat rilis data NFP AS, seperti yang pernah terjadi pada GBP beberapa tahun lalu.

Bersambung ke bagian (2)

Pentingnya Indikator Fundamental GDP

Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto adalah indikator fundamental utama yang digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Angka GDP menyatakan nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode waktu tertentu. GDP bisa dianggap sebagai ukuran perekonomian negara tersebut dan sampai seberapa jauh ekonomi negara tersebut telah tumbuh atau sedang menyusut. Secara umum bisa dikatakan jika GDP suatu negara meningkat maka perekonomian negara tersebut sedang menguat, dan permintaan mata uang negara tersebut juga akan meningkat yang berarti nilai tukarnya akan menguat. Sebaliknya jika GDP menyusut atau negatif, nilai tukar mata uang negara tersebut akan cenderung melemah.

Biasanya GDP diukur per kwartal dan per tahun (tahunan), yang diperbandingkan terhadap kwartal dan tahun sebelumnya. Misalnya jika GDP tahunan suatu negara meningkat 3% berarti ekonomi negara tersebut telah mengalami pertumbuhan sebesar 3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Umumnya GDP dihitung dengan menjumlahkan semua investasi, konsumsi total, pengeluaran pemerintah dan ekspor. GDP berpengaruh langsung pada masyarakat dalam sebuah sistem perekonomian. Jika ekonomi sedang tumbuh, angka pengangguran akan turun dan tingkat upah akan naik seiring dengan permintaan tenaga kerja yang meningkat.

Perubahan GDP yang signifikan biasanya akan berdampak langsung pada pasar saham. Jika ekonomi sedang memburuk maka keuntungan perusahaan yang go public juga akan berkurang dan harga sahamnya akan turun. Para investor yang khawatir ketika GDP sedang negatif akan keluar dari pasar saham hingga indeks harga saham turun. GDP suatu negara yang negatif selama 2 kwartal berturut-turut merupakan tanda bahwa negara tersebut sedang memasuki resesi.

Rilis data GDP
Dalam setiap tahun ada 3 kali rilis data GDP yaitu:

1. Advance GDP: dirilis sebulan setelah berakhirnya satu periode kwartal. Rilis data ini adalah yang paling awal sehingga cenderung mempunyai pengaruh cukup besar meski ada perbedaan dengan data akhir (final report) karena beberapa data yang belum dihitung seperti data perdagangan dan persediaan barang (inventory).
Disebut juga dengan GDP First Release atau Estimated GDP.

2. Preliminary GDP: dirilis 2 bulan setelah berakhirnya satu periode kwartal. Rilis data ini lebih realistis dari rilis sebelumnya. Disebut juga dengan GDP Second Realease.

3. Final GDP: dirilis 3 bulan setelah berakhirnya satu periode kwartal. Pada rilis data ini ada beberapa perbaikan atau revisi dari data sebelumnya. Disebut juga dengan GDP Third Release atau Revised GDP.

Rilis data GDP tidak hanya penting bagi investor, trader atau analis, tetapi juga sangat diperhatikan oleh para petinggi bank sentral sebagai penentu kebijakan moneter dan juga para politisi. Dalam merencanakan kebijakan moneternya, bank sentral melakukan estimasi dan menetapkan target GDP pada suatu periode tertentu. Bersamaan dengan data pengangguran dan tingkat inflasi yang sedang berjalan, bank sentral bisa mengambil kebijakan untuk merubah tingkat suku bunga atau bahkan melakukan tindakan stimulus seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Jepang.
Di Amerika Serikat prediksi secara umum range pertumbuhan ekonomi yang ideal per tahun adalah 2.5% hingga 3%. Jika perekonomian mulai memasuki resesi, GDP diharapkan bisa naik hingga 6%-8%, tetapi dalam jangka panjang pada umumnya investor memprediksikan GDP pada level sekitar 3%.

Kekurangan jika trading dengan indikator fundamental GDP adalah bahwa rilis data GDP hanya terjadi per kwartal, tidak seperti kebanyakan indikator fundamental penting lainnya yang dirilis per bulan misalnya CPI, NFP dan indeks sentimen bisnis, atau klaim data pengangguran AS yang dirilis per minggu. Meski demikian, trend GDP dalam jangka panjang penting diketahui guna mengetahui level perekonomian suatu negara. 

Non-Farm Payrolls Dan Nilai Tukar USD

Jika kebetulan Anda seorang trader forex yang peduli pada data-data fundamental, maka Anda tentu tahu bahwa data perubahan jumlah tenaga kerja suatu negara merupakan salah satu kunci penggerak nilai tukar mata uang negara tersebut. Jumlah tenaga kerja bisa diartikan juga sebagai jumlah lapangan pekerjaan (job) yang tersedia. Salah satu data perubahan jumlah job yang selalu ditunggu pelaku pasar forex adalah data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang biasanya berdampak tinggi pada US Dollar. Banyak scalper dan trader harian yang memanfaatkan tingginya volatilitas pada saat data NFP AS dirilis guna meraup keuntungan.

Data Non-Farm Payrolls AS
Non-Farm Payrolls (NFP) adalah laporan data mengenai daftar gaji yang diterima oleh para pekerja AS pada semua sektor bisnis kecuali:
- pegawai pemerintah federal (seperti PNS di Indonesia).
- pekerja sektor pertanian dan perkebunan.
- pembantu rumah tangga (PRT) yang bekerja pada individu.
- pekerja organisasi nirlaba (non profit) yang memberikan konsultasi pada individu.
Jadi gaji para trader forex termasuk dalam daftar NFP.

Laporan yang dirilis tiap bulan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada hari Jum’at minggu pertama tersebut juga mencakup jumlah rata-rata waktu kerja dan pendapatan rata-rata per minggu bagi pekerja paruh waktu (part-timer).

Kenapa data NFP AS penting?
Data NFP menunjukkan pendapatan yang diterima oleh 80% pekerja AS yang memberikan sumbangan besar pada angka GDP AS. Data tersebut merupakan indikator awal bagi pengeluaran konsumen dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. The Fed dan pemerintah menggunakan indikator ini untuk menentukan kondisi perekonomian saat ini dan memprediksi keadaan diwaktu yang akan datang. Para penentu kebijakan selalu mempertimbangkan data tenaga kerja guna membuat keputusan-keputusan penting.

Semakin banyak job berarti semakin tinggi juga angka NFP, dan kondisi bisnis akan meningkat dengan bertambahnya investasi dan perekrutan tenaga kerja sehingga permintaan akan naik. Keadaan sebaliknya terjadi jika angka NFP turun. Patokan perkiraan angka NFP yang normal saat ini adalah sekitar 200,000 job (kurang lebih). Dibawah angka tersebut biasanya tingkat pengangguran akan meningkat, menunjukkan permintaan yang berkurang atau kepercayaan bisnis yang menurun. Keadaan sebaliknya terjadi untuk angka NFP yang tinggi.

Pengaruh NFP AS terhadap nilai tukar USD
NFP naik berarti banyak job yang tercipta dengan jumlah pekerja yang meningkat. Hal ini akan menyebabkan naiknya permintaan konsumen, dan akan berdampak positif pada nilai tukar USD. Jadi jika angka NFP naik maka nilai tukar USD akan menguat, jika NFP turun nilai tukar USD akan melemah.

Dampaknya terhadap USD biasanya tergantung dari perbedaan antara data aktual (hasil rilis) dan ekspektasi, yaitu data hasil konsensus dari para ekonom dan analis, atau perkiraan. Jika data aktual lebih besar dari perkiraan maka USD akan menguat, dan sebaliknya jika data aktual lebih kecil dari perkiraan maka USD akan melemah. Semakin besar perbedaan data aktual dan perkiraan maka semakin tinggi penguatan atau pelemahan nilai tukar USD.

Rabu, 07 Januari 2015

Harga Emas Akan Naik

Bulan Januari Diprediksi Emas Naik karena QE Euro, Isu Kenaikan Suku Bunga AS dan Jelang Tahun Baru Cina

Emas bergerak naik ditengah merebaknya spekulasi quantitative easing zona euro sepanjang tahun 2015. Kebijakan Bank Sentral Eropa yang mengindikasikan akan mencetak uang lebih banyak, melemahkan mata uangnya karena mencetak uang lebih banyak akan menambah peredaran uang Euro di pasar. Tambah lagi, isu akan naiknya suku bunga AS di kwartal pertama tahun 2015 diprediksi akan menguatkan terus menguatkan dolar AS terhadap mata uang lainnya terutama Euro.

Emas mendapat keuntungkan ditengah perbedaan kebijakan antara Eropa dan AS, dengan prospek untuk tingginya biaya pinjaman di AS dan peningkatan pembelian aset di Eropa dikombinasikan dengan penguatan dollar mendorong para investor terutama yang ada di Eropa, mengalihkan investasi mereka ke Save Havens Emas.

Akibat pengalihan investasi dari para investor Eropa dan pemegang Euro ke emas membuat harga emas pada bulan ini akan terus naik, apalagi di awal tahun ini, berbagai penduduk Cina akan merayakan tahun baru Cina tanggal 19 Februari 2015. Biasanya, jelang tahun baru Cina, permintaan emas akan naik.

Emas diprediksi akan naik menuju 1212.50 bila menembus resisten pada level 1197.00-1199.00 pada bolinger atas 20 time frame M30. Target bulan ini, emas akan naik menuju level 1235.00 pada MA 11 time frame Monthly.

Untuk info lebih lanjut di Klik Ini