Sabtu, 14 Februari 2015

Lowongan Kerja di PT Central Capital Futures - Jogja (Assistant Manager Marketing, Marketing Executive, Portfolio Officer dan Public Relations) | Lowongan Kerja Yogyakarta 2015

Lowongan Kerja di PT Central Capital Futures - Jogja (Assistant Manager Marketing, Marketing Executive, Portfolio Officer dan Public Relations) | Lowongan Kerja Yogyakarta 2015

Pelajari Bagaimana Kami Membantu Anda Mendapatkan 44 Juta Dalam 1 Bulan

Datang dan buktikan bagaimana sistem investasi kami dapat meningkatkan portfolio aset Anda secara konsisten!
Kami akan menampilkan secara langsung testimoni pembuktian kesuksesan investasi nasabah kami di tahun 2014.

PT. Central Capital Futures 
JL. Magelang KM 4 No. 188 Karangwaru 
Tegalrejo Yogyakarta 55241
(0274) 8000108
0818262273
Atau ke email :
otatrading_ccf@yahoo.co.id
Bagi Anda yang belum mengetahui cara “Meraih untung dengan OTA Trading”.
Silahkan klik tombol di sebelah kanan : OTA-Trading : MUDAH, CEPAT, dan MENGHASILKAN

Ini Perbedaan Kelas Menengah dengan Orang Kaya

Data dari majalah Forbes menyebut 400 orang kaya di Amerika Serikat memiliki kekayaan lebih banyak dibanding dengan gabungan pendapatan 150 juta warga lainnya. Data lain menyebut bahwa kelas menengah, mereka yang tidak kaya tapi juga tidak miskin, mulai berkurang jumlahnya. Entah mereka naik kelas menjadi orang kaya atau malah melarat.

Jika Anda memilih jadi orang kaya, maka ada beberapa pola pikir yang harus Anda ubah. Berikut Sepuluh Pemikiran di Antaranya.

1. Kelas menengah hidup nyaman, orang kaya pasrah hidup dengan tidak nyaman
"Bersedialah untuk hidup tidak nyaman. Nyamanlah dengan ketidaknyamanan. Memang itu sulit, tapi itu harga kecil yang harus dibayar untuk hidup dalam impian." - Peter McWilliams, motivator yang juga penulis.
2. Kelas menengah hidup di atas kemampuan, orang kaya hidup di bawahnya
Orang kaya tidak menghabiskan uangnya pada materi yang menurun nilainya. Mereka menghabiskan uangnya pada aset yang terus bertambah nilainya.
3. Kelas menengah menapaki tangga karir, orang kaya jadi pemilik tangga itu
Kelas menengah cenderung bekerja untuk orang lain. Mereka punya pekerjaan dan karir. Sedangkan orang kaya memiliki perusahaan tempat para kelas menengah bekerja dan meniti karir.
4. Kelas menengah berteman dengan siapa saja, orang kaya memilih temannya dengan hati-hati
"Lebih bagus berbaur dengan orang yang lebih baik dari Anda. Pilih rekan kerja yang perilakunya jauh lebih baik dan Anda akan ikut terpengaruh." - Warren Buffet, pengusaha dan salah satu orang terkaya di AS.
5. Kelas menengah bekerja untuk mendapat pemasukan, orang kaya bekerja untuk mendapat pengetahuan
"Saat Anda muda, bekerjalah untuk belajar, bukan untuk uang." - Robert Kiyosaki, pengusaha, motivator, dan penulis buku.
6. Kelas menenangah punya materi, orang kaya punya uang
Jika berkendara ke perumahan kelas menengah, maka Anda akan melihat ragam mobil baru, tampilan rumah mewah, atau materi lain yang mentereng. Sedangkan orang kaya mengerti, agar bisa kaya, Anda harus haus akan uang dibanding haus akan materi.
7. Kelas menengah fokus pada menabung, orang kaya fokus pada mendapat pemasukan
Anda mengerti pentingnya menabung dan investasi, tapi agar mendapat hasil maksimal dari dua hal ini, Anda harus mendapat pemasukan lebih. Orang kaya paham soal ini dan menciptakan banyak jalur untuk mendapat pemasukan lebih.
8. Kelas menengah emosional soal uang, orang kaya lebih logis
Membuat keputusan finansial secara emosional akan merugikan keuangan Anda. Emosi membuat seseorang membeli terlalu mahal dan menjual terlalu murah, emosi juga membuat perjanjian bisnis jadi berisiko. Tinggalkan emosi dan mulailah berpikir logis.
9. Kelas menengah merendahkan potensi diri yang mereka miliki, orang kaya mempunyai target yang tinggi
"Tetapkan target yang tinggi, jangan berhenti sebelum Anda sampai ke sana." - Bo Jackson, mantan atlet NFL.
10. Kelas menengah yakin pada keampuhan kerja keras, orang kaya lebih percaya pada daya ungkit
Daya ungkit yang dimaksud di sini adalah alat yang Anda gunakan untuk bisa menjadi kaya. Bentuknya banyak, mulai dari alih daya sampai investasi, http://www.lifehack.org/

Masih banyak kayanya yang belum kita lakukan di tahun 2014, masih banyak yang tertinggal, masih banyak penyesalan.

Sebagian dari mereka “Finally tahun baru”, itu mungkin keluar dari mulut mereka yang menunggu liburan dan ingin menghabiskan jatah cuti, atau mereka yang menerima bonus tiap tahunnya.

Tapi lihat dulu investasi macam apa yang paling pas untuk mencapai resolusi kita itu. Investasi yang mudah? Tidak membutuhkan banyak waktu? Bisa dilakukan/diakses dimanapun dengan gadget apapun? Paling cepat menguntungkan? Kami bawa dan temani kamu mewujudkan Resolusi Finansial 2015 Kamu.

SIAPKAN, RENCANAKAN RESOLUSI FINANSIAL 2015

Antara Gaji dan Gaya Hidup

Kamis, 22 Januari 2015

Anggapan Keliru Tentang Trading Forex

Saya menekuni bidang trading dalam bilangan waktu yang tidak cukup dihitung dengan jari dan pengalaman yang saya dapatkan selama menekuni bidang ini sangat beragam dan menarik. Kunci dalam menekuni trading adalah kesabaran yang tak akan habis-habisnya diuji. Saat kita bersabar, orang lain tidak, mereka mendesak dan memaksakan kehendak dan saat menghadapi kekalahan mereka mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan dengan berbagai cara yang kadang tidak lazim.

Jika Anda memiliki persepsi bahwa pasar forex (foreign exchange) adalah ajang untuk meraih jalan pintas menjadi kaya dalam waktu singkat, pasti akan Anda akan menuai kekecewaan. Banyak perusahaan broker yang berani menjamin bahwa nasabah akan dapat memperoleh keuntungan finansial dalam jumlah besar dalam waktu singkat, dan mereka meyakinkan nasabah bahwa perusahaan mereka memiliki regulasi dan fasilitas trading yang paling aman, namun mengapa pada kenyataannya mengapa tidak banyak trader yang menjadi klien broker tersebut?

Tujuan utama melakukan trading sama dengan keinginan siapapun yang sedang menjalankan bisnis, yaitu memperoleh profit. Pelajaran berharga yang saya peroleh selama terjun dibidang ini, faktor penentu yang paling utama dalam meraih kesuksesan dibidang trading bukan orang lain, bukan broker ataupun kondisi pasar, melainkan diri kita sendiri. Baik cara berpikir, kesiapan mental dan emosi yang stabil.

Banyak orang yang menolak tawaran trading, antara lain ada yang beranggapan dan yang mengatakan kepada saya bahwa trading adalah gambling — BUY atau SELL? Memilih membeli atau menjual. Tapi kembali lagi, bukankah hidup ini sendiri adalah gambling? Hidup adalah tentang pilihan. Kita memilih tidur atau berangkat bekerja. Kita memilih diam atau berkarya. Kita memilih menyerah atau terus berusaha. Kita memilih mau makan nasi goreng atau nasi padang, dan seterusnya. Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Kalau tidur, bermalas-malasan dan tidak mau bekerja, tentunya kita menutup jalan kita sendiri untuk memperoleh rezeki. Tapi kalau kita mau berusaha dan bekerja, bertemu dengan orang lain terus belajar dan mengembangkan network, orang-orang disekeliling kita adalah pintu-pintu rezeki.

Nah, kali ini saya akan mengulas konsep trading forex yang merupakan cara berpikir kita, berdasarkan pengalaman dan pelajaran yang banyak saya peroleh dari lingkungan trading. Yang terutama, selain kesiapan dan kesabaran, diperlukan juga edukasi tentang pemahaman tentang trading yang baik dan benar.

Konsep yang ingin saya bagikan disini adalah ‘jumlah presentase yang tinggi bukan penentu kesuksesan trading’. Mengapa? Banyak anggapan yang keliru tentang prosentase profit atau win rates. Para trader pemula pada umumnya cepat terobsesi oleh jumlah frekuensi profit dan loss. Mereka menganggap, jika sering mendapatkan profit, berarti akan semakin cepat juga meraih target profit bulanan atau tahunan, yang sesuai rencana atau proyeksi mereka.

Kenyataannya, ini adalah cara berpikir yang keliru! Sebab dalam trading forex, tidak ada hubungan linier antara profit dan waktu. Maknanya, kita tidak dapat setiap waktu memperoleh profit, meskipun kita telah mengetahui bahwa metode trading yang kita terapkan telah teruji. Kenyataan pahitnya adalah kita bisa memperoleh profit 99% sepanjang target waktu kita dan loss besar hingga mengalami margin call dalam sekali trade.

Jadi, kita perlu memahami bahwa kita juga memiliki potensi loss setiap waktu. Namun kita dapat menjaga agar loss tersebut bisa seminimal mungkin. Yang perlu menjadi perhatian kita dan merupakan hal yang penting adalah statistik perbedaan antara frekuensi rata-rata profit dan rata-rata loss. Jika frekuensi rata-rata profit lebih besar daripada loss, maka bisa disimpulkan bahwa kita telah memiliki pegangan yang cukup kuat baik dalam cara pikir maupun metode dan strategi trading yang bisa selaras dengan karakteristik pasar forex.

Saya memiliki rekomendasi untuk melakukan trading forex disini, kita bisa memulai trading hanya dengan $1000 atau setara dengan sepuluh juta rupiah..

Selamat Trading!

Jumat, 16 Januari 2015

Kaya atau Hanya Terlihat Kaya?

Kebanyakan orang yang tinggal di kota-kota besar, akan dilihat sebagai orang kaya ketika mereka menggunakan pakaian branded, barang-barang mahal, tempat tinggal (rumah atau apartemen) hingga kendaraan mewah. Bahkan tempat nongkrong yang biasa didatangi bisa menjadi simbol dari kelas sosial mereka. Tidak heran, banyak sekali orang-orang yang senang sekali menghabiskan waktu luangnya untuk nongkrong di Starbucks, McDonalds, atau KFC. Untuk menyimak pembahasan lebih lanjut tentang korelasi gaji dan gaya hidup masyarakat di kota besar, kamu bisa membaca di artikel saya sebelumnya yang berjudul Antara Gaji dan Gaya Hidup. Ya, seperti itulah fakta yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tapi apakah orang-orang yang bergaya hidup seperti itu sudah pasti kaya? Jawabannya, BELUM TENTU!
Mari simak beberapa fakta dari sebuah kasus berikut ini:
  1.      Indah Daniari (bukan nama sesungguhnya)
Indah berusia 35 tahun, ia adalah seorang Marketing Manager dari salah satu perusahaan ternama di Jakarta, memiliki gaji hampir Rp. 30 juta per bulan. Didukung dengan gaji yang besar, secara otomatis Indah memiliki standar gaya hidup yang tinggi. Ia memiliki mobil mewah, tinggal di apartemen mewah, menyekolahkan anaknya di sekolah internasional dan ia juga sering kali mengajak keluarganya makan di restoran mahal.
  1.      Astri Rahayu (bukan nama sesungguhnya)
Astri berusia 30 tahun, ia adalah seorang karyawan biasa yang hidup di pinggiran Jakarta. Rata-rata gaji bulanannya hanya Rp. 5 juta. Ia hidup sederhana, memiliki rumah dan sebuah mobil kelas menengah. Ia dan keluarganya hanya sesekali pergi liburan ketika mudik lebaran.

Setelah melakukan Financial Check-up, ternyata kekayaan Indah minus Rp. 50 juta dan ia tidak mempunyai tabungan atau investasi karena uangnya habis hanya untuk menunjang gaya hidup. Apartemen yang ia tempati pun hanya sewaan dan mobilnya masih cicilan. Sedangkan Astri, status rumah dan mobilnya adalah milik sendiri dan semuanya lunas dengan kekayaan bersihnya Rp. 250 juta. Kamu bisa menilai mana yang lebih kaya?

Dari contoh di atas kita bisa menilai, kasus tersebut kerap terjadi. Gaji bulanan yang habis di tengah jalan telah menjadi fenomena masyarakat di kota-kota besar. Akar permasalahan tersebut terletak pada:
  1. 32% masyarakat di kota-kota besar memiliki standar gaya hidup yang tinggi
  2. 50% masyarakat di kota-kota besar tidak bisa membedakan antara simpanan, tabungan dan investasi.
  3. 18% masyarakat di kota-kota besar memiliki hobi ngutang, salah satu contohnya berbelanja dengan kartu kredit.
Bagaimana bisa menyisihkan uang untuk tabungan apalagi investasi apabila kekayaan yang dimiliki mencapai angka minus? Coba lihat diri kamu! Jangan-jangan kamu adalah salah satunya. Sadarilah kebiasaan buruk tersebut sejak dini dan berhati-hatilah jangan sampai mengalami kebangkrutan.

Edukasi tentang perencanaan keuangan merupakan salah satu faktor keberhasilan untuk mencapai finansial sehat. Belajar untuk melakukan good money habit, caranya dengan membagi pengeluaran menjadi 3 bagian:
  1.      Living.
Gunakan dana ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, belanja bulanan, biaya rumah tangga, listrik, telepon, tv berlangganan, biaya sekolah dan lainnya. Jika kamu memiliki cicilan atau hutang, masukkan ke dalam pos ini.
  1.      Saving.
Alokasikan dana kamu secara rutin untuk menabung di bank dan investasi seperti emas, asuransi, reksadana, trading forex atau emas.
  1.      Playing.
Selain pengalokasian dana di atas, kamu pasti ingin menikmati hiburan atau liburan. Gunakan pos ini untuk menyimpan dana yang dibutuhkan untuk hal-hal yang sifatnya untuk kesenangan.

Dari ketiga pembagian pengeluaran di atas, permasalahan terbesar  di kota-kota besar terletak pada masih minimnya kesadaran masyarakat akan investasi. Banyak orang yang menganggap tabungan hanya dijadikan simpanan yang bisa habis kapan saja. Apabila cara tersebut dibiarkan secara terus-menerus, kamu tidak memiliki dana yang bisa digunakan dalam keadaan darurat. Oleh karena itu, investasi penting dilakukan.

Kamu tidak perlu pusing lagi investasi apa yang ingin dipilih. Centralfutures.com memiliki sarana berinvestasi cepat dengan menggunakan OTA Trading. Kamu bisa mengelola sebagian penghasilan dengan melakukan trading forex atau emas. OTA Trading akan memberikan saran BUY atau SELL dengan mudah dan menghasilkan sehingga aktivitas trading kamu bisa menjadi lebih menyenangkan.

Kamu pasti tidak ingin hanya terlihat kaya, bukan? Wujudkan mimpi kamu sekarang juga dengan OTA Trading!

Kamis, 15 Januari 2015

Trading Forex atau Investasi Properti ?

Bisnis di dunia properti dan trading forex memang cukup menarik, karena peluang keuntungan yang ditawarkan, namun keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Beda trading forex dengan investasi properti tidak begitu sulit dikenali karena keduanya memiliki sifat dan cara kerja yang berbeda, baik dari segi komoditas, peluang profit, maupun resikonya. Bahkan, dari definisi saja keduanya sudah berbeda. Trading forex bersifat aktif, artinya, pemilik uang menjalankan sendiri aktivitas trading (tukar-menukar mata uang) untuk mencapai target profit. Sementara itu, seorang investor properti berhubungan dengan aset tetap, berupa tanah, real-estate, dan sejenisnya, dan investasi properti bersifat pasif.

Trading Forex atau Investasi Properti: Sifat Keuntungan

Beda trading forex dengan investasi properti terlihat cukup jelas dari sifat pendapatan yang diperoleh investor atau pelaku trading. Untuk bisnis properti, pemasukannya bersifat pasif. Keuntungannya baru diperoleh jika properti dijual (dari selisih harga) atau jika properti anda dikontrak (dari uang sewa). Namun tentu saja laba yang didapat cukup besar, terutama karena nilai aset tetap seperti lahan atau real-estate selalu bertambah dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, investasi properti sangat cocok untuk jangka panjang; semakin lama jangka waktu investasi, semakin tinggi nilai jualnya.

Untuk menyewakan property, jelas laba tersebut bisa anda dapatkan dengan cukup cepat. Pasalnya dalam jangka waktu tertentu anda bisa mendapatkan pendapatan dari penyewaan dan juga kontrak dari bisnis property yang anda jalani tersebut. Sementara jika anda memilih untuk menjual, tentu saja laba yang didapatkan hanya sekali saja untuk 1 buah property dan bisa jadi didapatkan dalam jangka waktu lama.

Sebaliknya untuk trading forex, anda mendapatkan pemasukan aktif yang didapat dari kegiatan bermain di ruang trading. Seorang trader menjadi pelaku aktif, untuk mengikuti perputaran nilai mata uang yang sangat cepat. Bukan lagi hitungan hari, hitungan menit bahkan detik dapat mempengaruhi profit yang didapatkan seorang trader. Profit didapat dari selisih nilai beli (buy) dan nilai jual (sell) mata uang. Semakin tinggi selisihnya, semakin besar profit. Namun untuk itu, seorang trader harus berpacu dengan waktu, jeli dalam menilai arah perputaran mata uang, memantau terus harga pasar dan berita-berita ekonomi, dan memiliki strategi yang tepat.

Beda Trading Forex dengan Investasi Properti: Modal Awal
Beda trading forex dengan investasi properti lainnya terletak pada modal awal. Untuk bermain di sektor investasi property, anda harus mengeluarkan modal minimal 10% dari biaya akuisisi untuk property tersebut. Atau, jika anda ingin memulai dari awal, anda membutuhkan modal awal yang cukup besar, ratusan bahkan hingga milyaran rupiah. Sekalipun anda ingin memulai dengan menggunakan kredit bank, untuk pinjaman yang nilainya besar, anda juga harus memiliki agunan berupa aset tetap.

Sedangkan untuk usaha trading forex, modal yang dikeluarkan tentu jauh lebih sedikit, bahkan dengan modal US$10.000 pun anda sudah bisa menjadi trader. Bahkan dengan modal sekitar $ 10.000 saja, Itulah kenikmatan bisnis trading forex. Namun tentu saja, dengan modal yang sedikit, pendapatan atau laba yang didapat juga pastinya sedikit.

Beda Trading Forex dengan Investasi Properti: Likuiditas dan komoditi
Selain sifat keuntungan dan modal awal, trading forex dengan investasi properti juga terletak pada likuiditasnya. Di  Forex trading adalah area bisnis yang sangat likuid; maksudnya, kapanpun anda butuh, anda bisa menarik dana atau mencairkan laba yang diperoleh, apalagi saat ini banyak broker forex yang sudah melayani penyetoran dan penarikan melalui bank-bank lokal. Trader dapat bermain online selama 24 jam sehari karena forex memang nyaris tidak memiliki waktu tutup; pasalnya, pergerakan mata uang di setiap negara di lima benua terjadi di zona waktu yang berbeda-beda. Misalnya, saat pasar Asia tutup, maka pasar Amerika terbuka.

Seorang trader forex tidak benar-benar melakukan pembelian atau penjualan uang secara fisik. Komoditinya adalah nilai mata uang. Tidak terjadi proses jual-beli layaknya perniagaan di pasar komoditi. Anda tidak perlu menunggu seseorang datang untuk menjual komoditi. Namun, dana yang anda miliki dikonversi ke mata uang yang dituju, dan nilainya lah yang anda perjualbelikan. Sebaliknya untuk investasi properti, anda berhubungan dengan aset tetap dan dengan manusia. Aset tetap sebagai komoditi harus dijual atau disewakan kepada orang lain; barulah anda mendapatkan keuntungan.

Selain itu, investasi properti cocok untuk jangka panjang karena sifatnya tidak likuid. Proses transaksi cukup lama; misalnya anda harus mengiklankan terlebih dahulu rumah atau apartemen yang ingin anda jual atau sewakan, dan proses pengiklanan bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Bahkan, setelah ada peminatpun belum tentu aset anda langsung terjual; ada yang namanya proses tawar menawar, yang tidak jarang ditutup dengan kegagalan. Tingkat likuiditas inilah salah satu beda trading forex dengan investasi properti yang paling mendasar.

Trading Forex atau Investasi Properti: Resiko

Sebagai suatu hal yang melekat pada setiap aktivitas bisnis, resiko harus tetap menjadi bahan pertimbangan, karena setiap jenis investasi memiliki resiko yang berbeda-beda. Demikian juga dengan trading forex dan investasi properti. Trading forex sangat tergantung kepada pemilihan waktu dan strategi, karena perputaran nilai mata uang bisa terjadi pada hitungan detik saja. Di sinilah resiko utama forex. Kesalahan dalam memilih waktu (kelalaian) bisa memicu loss yang besar. Misalnya, pada saat anda memutuskan untuk sell; ternyata nilai mata uang tersebut mengalami penurunan; akibatnya, anda menjual dengan harga yang lebih rendah dari harga beli. Artinya? Anda merugi!

Resiko trading forex lainnya terletak pada strategi. Strategi Trading dan kemampuan analisis seorang trader sangat tergantung kepada jam terbang. Namun, tetap saja hal ini mempengaruhi peluang profit atau loss yang bisa anda dapatkan. Contoh kasus: anda mendengar berita terjadinya kenaikan payroll buruh di Jepang, dan memperkirakan bahwa ekonomi Jepang akan menguat, Lalu, anda pun memutuskan untuk membeli Yen dan menjualnya lagi saat nilainya benar-benar naik. Sayangnya, beberapa saat kemudian terjadi kenaikan harga minyak di Amerika, yang dapat mempengaruhi nilai tukar Yen. Akibatnya? Kenaikan nilai mata uang Jepang yang ditunggu-tunggu pun tidak pernah terjadi.
Di sinilah Beda Trading Forex dengan Investasi Properti. Investasi properti sepertinya cukup aman dari resiko. Nilai properti biasanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, investasi properti juga tidak luput dari resiko. Di antaranya adalah resiko bencana alam, seperti banjir atau gempa, atau kebakaran yang dapat berakibat pada kerusakan properti. Selain itu, ada juga resiko regulasi, seperti penggusuran atau pemilihan lokasi yang tidak tepat, sehingga properti anda tidak terjual dengan harga yang diinginkan.
Tentunya, trading forex dan investasi properti sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahan. Semuanya kembali kepada anda untuk memutuskan salah satunya. Hanya saja, pastikan anda memiliki target (keuntungan jangka pendek atau jangka panjang) atau manajemen resiko yang rasional untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Pengetahuan tentang trading forex atau investasi properti dapat membantu anda dalam mengambil keputusan secara tepat.

Baca juga artikel

Meraih untung dengan OTA Trading (Bagian 1)